Minggu, Juni 14

Agama yang diridhai Allah SWT

Pendahuluan

Islam bukan sekadar label administratif dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau warisan budaya turun-temurun. Islam adalah din (agama) yang sempurna, yang diridhai Allah SWT, serta menjadi wasiat para nabi sejak Nabi Ibrahim AS hingga Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, mayoritas penduduknya beragama Islam, namun pertanyaan kritis yang perlu direnungkan bersama adalah: apakah kita benar-benar muslim sejati di sisi Allah, ataukah sekadar mengaku Islam tanpa menghayati substansinya?

Artikel ini bertujuan untuk mengupas hakikat keislaman berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an yang sahih, dengan pendekatan tafsir tematik, serta menghindari kesalahpahaman yang sering memicu perdebatan. Pembaca diajak untuk merenungkan sejauh mana amal perbuatan telah mencerminkan identitas keislaman yang diridhai Allah.

Landasan Al-Qur’an: Islam adalah Agama Pilihan Allah

1. Wasiat Nabi Ibrahim AS (Q.S. Al-Baqarah: 132)

Allah SWT berfirman:

وَوصَّىٰ بِهَا إِبْرَٰهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Transliterasi: Wa waṣṣā bihā Ibrāhīmu banīhi wa Ya‘qūb, yā baniyya innallāha iṣṭafā lakumud-dīna fa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

Terjemahan: "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.'" (Q.S. Al-Baqarah: 132)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam—yang makna dasarnya adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah—bukanlah agama baru. Nabi Ibrahim AS dan Ya‘qub AS mewasiatkan kepada keturunan mereka untuk tetap berada dalam Islam hingga ajal menjemput. Hal ini menunjukkan bahwa keislaman adalah garis ketauhidan yang lurus sejak zaman nenek moyang para nabi.

2. Penegasan Agama yang Diridhai (Q.S. Ali ‘Imran: 19)

Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَامُ

Transliterasi: Innad-dīna ‘indallāhil-islām.

Terjemahan: "Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Q.S. Ali ‘Imran: 19)

Ayat ini adalah dalil pokok yang menyatakan bahwa tidak ada agama lain yang diterima di sisi Allah selain Islam. Namun, para ulama tafsir—seperti Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah—menekankan bahwa kata Islam di sini tidak hanya berarti sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat, melainkan mencakup kepatuhan total, ketundukan batin, dan pengamalan syariat secara menyeluruh.

3. Balasan Setimpal atas Setiap Amal (Q.S. Al-Zalzalah: 7-8)

Allah SWT berfirman:

(٧) فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
(٨) وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Transliterasi: (7) Fa man ya‘mal miṡqāla żarratin khayray yarah. (8) Wa man ya‘mal miṡqāla żarratin syarray yarah.

Terjemahan: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula." (Q.S. Al-Zalzalah: 7-8)

Ayat ini menjadi pengingat keras bahwa predikat sebagai "muslim" tidak membebaskan seseorang dari hisab (perhitungan amal). Keyakinan masuk surga tanpa dibarengi amal saleh adalah khayalan yang keliru. Justru rasa aman dari siksa Allah yang berlebihan termasuk dosa besar, karena menghilangkan rasa takut dan kesadaran akan pertanggungjawaban.

Kriteria Muslim Sejati: Menembus Formalitas

Banyak orang mengira bahwa cukup dengan mengucapkan syahadat, pandai mengaji, atau rutin salat, maka ia telah menjadi muslim sempurna. Fakta di lapangan menunjukkan:

  • Sebagian orang non-Muslim justru hafal Al-Qur’an dan memahami artinya, namun mereka tidak beriman.

  • Sebagian orang ber-KTP Islam tetapi secara keyakinan menganut agama lain.

  • Sebagian muslim rajin salat tetapi perilaku sosialnya jauh dari nilai-nilai Islam.

Lalu, siapakah muslim sejati? Dalam Q.S. Al-Anfal ayat 2-4, Allah SWT menjelaskan ciri-ciri mukmin sejati, yaitu:

  1. Bergetar hatinya ketika nama Allah disebut.

  2. Bertambah imannya ketika ayat-ayat-Nya dibacakan.

  3. Bertawakal hanya kepada Allah.

  4. Mendirikan salat dengan khusyuk.

  5. Menginfakkan sebagian rezeki kepada yang membutuhkan.

Dengan demikian, keislaman adalah integrasi antara iman dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Jika salah satu komponen hilang, maka keislaman seseorang patut dipertanyakan.

Telaah Kritis Surah Al-Ma’un: Pendusta Agama dan Tanda Peringatan

Surah Al-Ma’un (QS. 107) adalah cermin yang sangat tajam untuk mengukur keaslian keislaman. Berikut ayatnya dalam teks Arab, transliterasi, dan terjemahan:

(١) أَرَأَيْتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ
(٢) فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ
(٣) وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ
(٤) فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
(٥) ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(٦) ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
(٧) وَيَمْنَعُونَ ٱلْمَاعُونَ

Transliterasi:

  1. Ara’aytallażī yukażżibu bid-dīn.

  2. Fa żālikallażī yadu‘‘ul-yatīm.

  3. Wa lā yaḥuḍḍu ‘alā ṭa‘āmil-miskīn.

  4. Fa waylul lil-muṣallīn.

  5. Al-lażīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn.

  6. Al-lażīna hum yurā’ūn.

  7. Wa yamna‘ūnal-mā‘ūn.

Terjemahan:

  1. "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?"

  2. "Itulah orang yang menghardik anak yatim,"

  3. "Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."

  4. "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat,"

  5. "(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,"

  6. "Orang-orang yang berbuat ria,"

  7. "Dan enggan (menolong dengan) barang berguna."

Analisis Tematik Surah Al-Ma’un

Surah ini secara berurutan membongkar tiga dimensi utama keislaman:

a. Dimensi Akidah (Ayat 1)
Orang yang mendustakan agama bukanlah mereka yang secara terang-terangan kafir, melainkan mereka yang mengaku Islam tetapi perilakunya bertentangan dengan misi agama. Kata yukażżib (mendustakan) di sini mencakup pengabaian nilai-nilai luhur Islam.

b. Dimensi Sosial (Ayat 2-3 & 7)
Allah mengidentifikasi pendusta agama dengan tiga sifat: menghardik anak yatim, tidak peduli pada orang miskin, dan enggan memberi bantuan kemanfaatan. Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan sosial. Harta yang dimiliki manusia adalah titipan Allah, dan di dalamnya terdapat hak orang lain yang wajib ditunaikan.

c. Dimensi Ibadah Ritual (Ayat 4-6)
Ironisnya, ayat 4-5 justru berbicara tentang orang yang salat. Namun mereka diancam dengan kecelakaan (wayl) karena salatnya tidak membawa perubahan perilaku. Kelalaian dalam salat mencakup:

  • Meninggalkan salat secara sengaja.

  • Melaksanakannya tanpa khusyuk (hanya gerak fisik).

  • Tidak tepat waktu (misal, salat Magrib tetapi Isya ditinggalkan).

Ayat 6 menambahkan bahwa mereka juga berbuat riya (ingin dipuji manusia), yang menghilangkan nilai keikhlasan. Salat yang tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar (sebagaimana Q.S. Al-‘Ankabut: 45) adalah salat yang merugi.

Implikasi Pendidikan dan Sosial

Surah Al-Ma’un mengajarkan bahwa ibadah ritual (salat) harus melahirkan kepedulian sosial. Jika salat tidak membuat seseorang lebih peka terhadap penderitaan anak yatim dan fakir miskin, maka salatnya patut dipertanyakan kualitasnya. Islam mengajarkan keseimbangan antara hablum minallāh (hubungan vertikal dengan Allah) dan hablum minannās (hubungan horizontal dengan sesama manusia).

Peringatan keras ini bukan untuk membuat putus asa, melainkan untuk membangun kesadaran bahwa keislaman adalah proses perbaikan diri yang berkelanjutan. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia" (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruquthni). Hadits ini menguatkan pesan Surah Al-Ma’un bahwa kemanfaatan sosial adalah buah dari iman yang benar.


Penutup: Renungan dan Seruan

Artikel ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun, karena hakikat keislaman seseorang hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Namun, sebagai bahan introspeksi, setiap muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri:

  • Apakah syahadat yang diucapkan telah merasuk ke dalam hati dan terwujud dalam amal?

  • Apakah salat yang dikerjakan telah mencegah perbuatan keji dan mungkar?

  • Apakah kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan sesama telah menjadi prioritas hidup?

Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi pembaca dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Kami menyadari bahwa tafsir dan pemahaman atas ayat-ayat Allah memerlukan rujukan yang mendalam. Oleh karena itu, pembaca dianjurkan untuk merujuk pada kitab-kitab tafsir mu‘tabar dan selalu memohon petunjuk kepada Allah SWT.

“Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (Amin).

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.

Cahyuningsih, Dwi. (2025). "Nilai-nilai Pendidikan Islam yang Terdapat dalam Surah Al-Ma'un." Skripsi. UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.

Jamal, Misbahuddin. (2011). "Konsep Al-Islam dalam Al-Qur'an." Al-Ulum, II, Desember 2011, hal. 287-298.

Muzakky, Althaf Husein, Atieq, Muhammad Qoes, & S., Jamaluddin. (2020). "Menjadi Mukmin Sejati Perspektif Al-Qur'An: Telaah Tafsir Jalālain." Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur'an dan Hadis, Vol. 21, No. 1.

Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur'an (Terjemahan As'ad Yasin dkk.). Jakarta: Gema Insani, 2000.

Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

Suteja, Mhd. Fadhli, Charles, Husni, Arman, & Iswantir. (2024). "Communication between Father and Child in the Qur'an: An Examination of Surat Al-Baqarah Verse 132-133 and its Implication for Children's Akidah Education." Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 10(2), hal. 154-168.

Yusran. (2015). "Amal Saleh: Doktrin Teologi dan Sikap Sosial." Jurnal Al-Adyan, I(2), Desember 2015, hal. 73-86.


Tags

4 comments:

roy mengatakan...

"Agama Islam tak asing bagi kita, karena agama ini adalah agama yang terbesar di negara kita dan agama yang sangat berpengaruh di dunia, bahkan kemungkinan besar yang sedang membaca tulisan ini adalah orang Islam. Bagi kita yang sudah menamakan dirinya ummat Islam kita harus berbangga diri karena agama ini adalah agama Allah, agama yang diridhai Allah, agama yang sejalan dengan perputaran alam ini. Kenapa kita harus berbangga? Apakah keistimewaan agama islam dibanding agama yang lain?"
urain anda ini seperti sebuah iklan produk...hehehehe..
dilihat dan disimak aja yg kelihatannya bagus n baik bgt tapi setelah dipake baru deh ketahuan ngga bagusnya

roy mengatakan...

"Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Q.S. Al-Baqarah: 132)"
Yang gw tau ya dan sejarah juga tau itu Nabi Abraham/Ibrahim n Yakub...bukanlah penganut islam...mereka adalah Nabi2 bangsa Israel yg notabenenya adalah Yahudi..dan Islampun ada pada jaman masehi sedangkan Nabi2 itu ada pada jaman sebelum Masehi...

roy mengatakan...

"Banyak KTP yang orangnya pemeluk agama non Islam tapi KTPnya Islam. Pengalaman saya, ada teman saya yang beragama hindu tapi KTPnya bertuliskan Islam. Jadi KTP belum bisa membuktikan bahwa diri kita ini Islam yang sesungguhnya."
Sip saya juga punya pengalaman yg sama dengan anda...saya punya teman yg punya ktp beragama Kristen padahal dya beragama islam...jadi bukan hanya di islam yg punya kejadian begitu di agama lain pun ada..Ok

Abrah mengatakan...

Duh... mas..
Mas agamanya apa sich?

Mangnya U pernah pake agama gw? langsung komenx sperti itu? mannga sampai dimana pengetahuan U tentang Islam sicch???