Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat [536]." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al-A'raaf: 32)

Selasa, Februari 9

PULAU KODINGARENG

Catatan ini disusun Ulang Pada tanggal 10 Juni 2009 pada jam 01.00.

Hari Selasa tanggal 08 Juni 2009 adalah hari yang kami manfaatkan untuk pergi meneliti sebagai tugas Mata Kuliah Metode Penelitian. Hari ini kami pilih karena kebetulan hari ini tidak ada Kuliah, dibanding hari-hari lain yang dipadati Mata kuliah karena Dosen-dosen yang terlambat mata kuliahnya ia tambah jam mengajarnya, jadi Akhir-akhir semester ini kami sibuk Kuliah. Kesempatan kami pergi meneliti hanya satu hari saja karena besoknya ada lagi perkuliahan, tapi kami tetap mempersiapkan bekal untuk dua hari. Adapun yang saya bawa yaitu pakain dua pasang, jaket, sarung shalat, serban (alat shalat), alat tulis menulis @satu buku diari dan satu buku tulis dan juga polpen beserta laptop. Perlengkapan mandi juga saya tak lupa bawa seperti sikat gigi, odol, sabun mandi, sabun untuk cuci muka, dan haduk kecil ukuran 60X30 meter. Handuk tersebut untuk mengerinkan badan setelah mandi dan untuk membersihhkan keringat. Saya menggunakan sepatu sebagai alas kaki. Sebenarnya saya ingin membawa sandal tapi tidak jadi karena tas saya gunakan sudah berat karena laptop juga saya masukkan ke tas yang sama.

Jam 8.00 merupakan jam kesepakatan kelompok kami untuk berkumpul di Baruga Colli Pujie kampus Parangtambung UNM menuju ke tempat penelitian. Kami pilih jam 08.00 karena lebih cepat lebih bagus karena menurut informasi yang kami dapatkan bahwa kapal penyeberangan antar pulau berangkat jam 11.00. Adapun tempat tujuan penelitian kami yaitu di Pulau Kadingareng, tapi objek penelitian kami belum jelas, yang pasti kami akan meneliti bentuk kesenian yang ada disana. Walaupun kesepakatan kumpul jam 8.00 tapi masih ada teman kami terlambat sehingga keberangkatan kami juga sedikit tertunda. Tepat 09.04 kami naik pete-pete Cendrawasih dengan no. polisi DD 1064 U. Tapi sebelum naik pete-pete’ kami kumpul untuk memperbaiki niat dan doa bersama semoga mencapai tujuan dan semoga urusan tidak mengalami kendala. Doa pun dipimpin oleh ketua kelompok kami. Kami melewati Malengkeri, Jl Dangko, dan Jalan Cendrawasih menuju ke pelabuhan. Kami langsung menanyakan pada sopir pete-pete tersebut tentang tujuan kami karena diantara kami tidak ada yang tahu pelabuhan mana yang harus dituju untuk menyebrang ke pulau Kadingareng dan Alhamdulillah sopir pete-pete langsung mengerti dimana kami harus turun setelah menjlaskan keluhan kami. Dalam perjalan ke pelabuhan, Alhamdulillah kami tidak mengalami keterlambatan karena jalanan tidak begitu macet sebagaimana biasanya. Tak terasa perjalanan menggunakan pete-pete selama 26 menit akhirnya sampai di pelabuhan pada 09.30.

Pelabuhan tersebut bernama Pelabuhan Tombak Kayu Bangkoang. Kami langsung diantar orang tersebut ke kapalnya sambil melihat dikejauhan sana dan hati saya bertanya pulau yang manakan yang akan kami tuju dari sekian pulau yang terlihat di sana. Sebelum naik kapal tersebut kami mengambil gambar kapal yang akan mengantar kami. Kapal tersebut bernama “Cari Kawang” dengan nomor isin Dinas Perhubungan Reg.No.C.8.4.05,28-02-2011. Kami langsung masuk kapal antar pulau tersebut sambil menunggu keberangkatannya. Kami masing-masing mengeluh kepala pusing sekaligus mual karena kapal bergoyang karna ombak yang tingginya kurangl lebih 15 cm. Tapi kami tetap bertahan dalam kapal tersebut walaupun kepala pusing karena lebih baik kepala pusing dan mual daripada berdiri dan duduk kepanasan di dermaga.



Masih dalam kapal sambil menunggu keberangkatan kapal, diantara kami ada yang bertanya pada seseorang tentang sewa kapal untuk menyebrang ke pulau Kadingareng. Orang tersebut ternyata bukan penduduk pulau tersebut, tapi dia sudah empat kali kepulau tersebut karena dia punya teman disana dan dia pun menjawab pertanyaan kami bahwa sewa kapal untuk kepulau tersebut sebanyak Rp.10.000/orang dan lama perjalanan sekitar 1 jam 10 menit.

Tak lama kemudian, seorang ibu sambil menggendong bayinya bertanya kepada kami, dia menanyakan tentang tujuan kami kesana sehingga salah seorang diantara kami menjelaskan tentang tujuan kami yakni meneliti salah satu kesenian yang ada di pulau Kodingareng. Setelah menjelaskan, salah satu teman kami balik pertanya, “kesenian apa apakah yang Ibu tahu yang ada di sana”, Ibu tersebut langsung menjawab “kalau kesenian yang ada disana seperti Paraga”. Kami pun berterimah kasih atas Ibu tersebut atas infonya walaupun kami belum mengerti apa itu paraga dan kami langsung menanyakan nama Ibu tersebut dan kami saling memperkenalkan diri masing-masing kepada Ibu tersebut. Ibu tersebut bernama Ibu Nursiah, dia asli dari pulau tersebut. Informasi lain yang yang kami dapatkan dari Ibu tersebut yaitu jarak pelabuhan Makassar dengan pulau tersebut berkisar 1 mil dan jumlah penduduknya kurang lebih 1.000 jiwa. Tapi menurut saya 1 mil merupakan jarak yang sangat dekat sehingga dalam hati saya menyalahkan Ibu tersebut. Pulau tersebut tidak mungkin jaraknya 1 mil karena pulau Kodingareng tersebut tidak terlihat dari Pelabuhan Makassar. Gambar dibawah adalah Foto Ibu Nursiah yang tengah menggendong anaknya.


Kami telah memastikan diri untuk bermalam disana karena kenyataan yang meminta. Menurut informasi yang didapatkan dari penumpang kapal tersebut mengatakan bahwa kapal-kapal Kodingaren hanya berangkat satu kali pulang balik, kapal berangkat jam 06.00 pagi dari pulau Kadinagreng dan sampai di pelabuhan Makassar jam 07.10, kemudian balik lagi ke Pulau Kodingareng jam 11.00 pada hari yang sama. Kami tidak terlalu kecewa karena memang bekal yang kami siapkan selama dua hari bahkan salah satu diantara kami mempersiapkan diri bermalam di pulau tersebut selama tiga hari. Kami mengorbankan saja mata kuliah esok hari karena lebih banyak ilmu yang didapatkan apabila terjun ke lapangan dibanding duduk mendengar di bangku kuliah. Gambar disamping adalah foto kami pada saat di kapal.

Pada jam 10.54 mesin kapal dinyalakan menandakan kapal akan berangkat. Semua penumpang bersegera mengambil tempat duduk yang menyenangkang, tempat yang benar-benar dapat membawa kita melihat pemandangan laut Makassar. Sementara penumpang naik, kami memeriksa barang bawaan kami masing-masing sekaligus merapikan tempatnya supaya tidak terlupa atau tercecer. Gambar dibawah adalah foto barang bawan kami yang kami kumpul di satu tempat.


Pada jam 11.10, nakhoda kapal masuk ditempatnya, dia yang paling yang depan akan menyetir kapal sambil menggoyang goyangkan setir kapal. Sedangkan salah satu anggota kapal membuka tali pengikat kapal yang terikat di tiang dermaga sedang salah satu anggotanya lagi mengakat besi besar yang terikat tali yang tertempel di dasar laut. Tepat jam jam 11.13, suara mesin kapal semakin membesar dan kapal pun betolak satu menit kemudian tepatnya jam 11.14 dengan 36 penumpang.

Hijaunya pantai berubah menjadi biru setelah beberapa menit bertolak dari pelabuhan Makassar. Terlihatlah beberapa pulau dan kapal-kapal laut besar yang terapung di atas laut. Gedung-gedung di Makassar semakin mengecil dalam setiap detiknya. Perahu-perahu nelayan jaga tak terhitung banyaknya. Perahu layar juga sempat terlihat berjalan dari selatan ke utara. Ombak semakin meninggi berkisar kurang lebih 25 cm tapi kapal tidak terlalu goyang karena kepala kapal terancang khusus untuk membelah ombak. Suara mesin kapal dan bunyi air yang menabrak kapal mengusai telinga, sehinnga suara bayi yang tengah menangis hampir tak terdengar. Jauhnya pulau Kodingareng belum terlihat setelah beberapa menit kapal bertolak. Penumpang kapal sudah berbagai macam bentuk. Ada yang tidur, ada yang membaca Koran, ada juga yang duduk sambil melihat pemandangan laut, dan ada juga yang hanya duduk melihat lantai menunggu kapan kapal tiba.


Tak terasa satu jam berlalu, pulau Kodingareng pun terlihat jelas dengan deretan rumah penduduk yang padat tersusun di pinggir pantai. Perahu nelayan pun juga banyak terlihat dipinggir pantai. Banyak orang di dermaga terlihat menunggu berlabuhnya kapal. Entah mereka siapa, buruh atau orang yang menjemput kerabat yang datang dari Makassar. Kapal pun akhirnya berlabuh pada jam 12.26 di pantai Kodingareng. Seorang yang berbaju biru menjemput kedatangan kami, dia adalah Haji Samar (teman Yuni). Dialah yang menguruskan kami tempat penginapan. Kamipun melalui pintu gerbang Pulau tersebut dengan rasa bahagia karena kami selamat menyeberangi lautan yang berkilo-kilo jauhnya tampa hambatan yang besar.

Haji Samar membawa kami ke sebuah rumah penduduk yang tidak jauh dari pelabuhan. Kami berjalan selama 13 menit dari pelabuhan menuju rumah itu. Kami tidak tahu itu rumahya siapa. Kami sampai dirumah itu pada jam 12.37 dan kami langsung istirahat pada sebuah tempat duduk yang luasnya sekitar 1,5 mx 2 m yang terbuat dari bambu dibawah rumah tersebut. Ditempat itu kami melepaskan tas bawaan kami dan sepatu kami. Sementara istirahat sambil mengipas-ngipas badan dengan kertas, Haji Samar yang dibantu dengan seorang Ibu pemilik rumah mengeluarkan beberapa kursi plastik keluar rumahnya dan mempersilahkan kami duduk di kursi itu karena tempat itu lebih dingin karena terjangkau angin dari barat. Sambil duduk bersama sambil menikmati minuman dingin yang dihidangkan di sebuah meja, Haji Samar menjelaskan kepada kami bahwa rumah tersebut adalah rumah saudaranya, sedangkang rumah Haji Samar masih jauh dari tempat itu. Di rumah itulah akan kami tempati untik menginap.


Setelelah keringat saya mongering, saya langsung ke mesjid untuk menunaikan Shalat Duhur pada jam 12.46. Mesjid tersebut bernama mesjid Al-Hidayah yang tempatnya tidak jauh dauh dari Rumah tempat penginapan kami. Antara mesjid dan rumah penginapan hanya diselangi sebuah rumah. Saya selesai shalat sekaligus rangkainnya pada jam 12.54 dan langsung kembali ke rumah tersebut untuk melanjutkan pembicaraan. Kami mencoba menanyakan tentang kesenian yang ada di pulau tersebut, dan Haji Samar memberikan respon yang baik, dia mengatakan bahwa di pulau tersebut banyak bentuk kesenian dan salah satunya adalah sebuah sanggar yang dikelolah oleh temannya. Sanggar tersebut dipimpin oleh pak Muhajir yang rumahnya tidak jauh dari rumah tempat penginapan kami. Sanggar tersebut didalamnya terdapat Pa’raga, Tarian dan Tanjidor. Setelah mendengar penjelasan Haji Samar, kami berniat sesegera mungkin untuk pergi cek lokasi tapi Haji Samar mempersilahkan kami untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berangkat. Selain itu, informasi yang didapatkan dari Haji Samar mengenai luasnya pulau tersebut. Haji samar menyatakan bahawa luas pulau tersebut kurang lebih 1x2 km. Dan adapun pulau Kodingareng lebih ramai penduduknya disbanding pulau-pulau di sekitarnya. Kemudian system kelistrikan, pulau Kodingareng lebih baik karena listrik menyala dari 18.00-06.00 dibanding pulau-pulau di sekitarnya yang hanya dapat menikmati listrik pada jam 18.00-00.00.

Sebelum makan siang pada jam 14.04, saya dan ketua kelompok pergi ke kantor lurah dengan tujuan meminta isin untuk penelitian sekaligus mengisi beberapa data. Setelah sampai disana, kantor lurah ternyata tertutup. Masyarakat sekitar mengatakan bahwa kantor lurah baru saja tertutup tapi memang pak Lurah tidak ada ditempat alias tidak ada di pulau tersebut. yang ada hanyalah sekertaris Lurah tapi diapun sudah pulang ke rumahnya. Kami pulang dengan tangan kosong tak mendapatkan sesuai apa yang diharapkan.

Setelah sampai dirumah, kami langsung dipersilahkan untuk makan siang. Makanan pun sudah siap untuk disantap dengan ikan laut beserta ikan kering sebagai lauknya dan semangkuk sayuran. Jam 14.16 kami mulai makan dan selesai pada jam 14.29. Setelah makan kami bersiap-sipa pergi cek lokasi penelitian, tapi menurut informasi pak Muhajir tidak ada di rumahnya., dia pergi bermain tanjidor di sebuah acara pernikahan. Ketidak adaan pak Muhajir di rumahnya bukan membuat kekecewaan diantara kami, malahan kami senang karena dapat menyaksikan langsung permainan tanjidor di sebuah acara pernikahan sekaligus mendapatkan lebbih banyak data.

Pada jam 14.51, kami pergi ke acara pernikahan tersebut. Haji Samar tidak ikut bersama kami karena dia pergi mencet perahunya di pantai, tapi seorang anak muda yang bernama Rustang meluangkan waktunya mengantar kami ke tempat itu. Selama dalam perjalanan., kami tidak pernah mendapatkan tanah kosong, semua tempat dipadati rumah penduduk kecuali disana terdapat sebuah lapangan sepak bola dan disampingnya terdapat kuburan besar dan sebuah sekolah SD dan SMP. Kami berjalan beberapa menit sambil menikmati pemandangan desa yang sangat ramai penduduknya,

Setelah beberapa menit perjalanan terdengarlah musik drum yang diiringi suling, tapi kami tidak tahu dimana musik itu berbunyi. Kemudian kami mencari dan mendekati bunyi tersebut, terlihatlah beberapa orang dengan berseragam merah memainkan musik bersama. Kamipun langsung mengambil gambarnya dalam bentuk video dan foto. Kami melihatnya sampai memainkan dua buah lagu dimana kedua lagunya adalah lagu-lagu dangdut. Itulah musik tanjidor yang hanya dimaikan dengan drum dan suling sebagai melodi tampa vocal.



Setelah menyaksikan tanjidor ini yang mereka berikan nama musik tanjidornya “Irama Baru”, kami pergi menyaksikan permainan musik tanjidor yang berbeda. Jarak pemain tanjidor yang satu dengan yang lainnya tidak jauh beda, hanya berselang satu rumah. Pemain tanjidor kedua juga menggunakan seragam yang sama, mereka menggunakan pakaian kain warna putih bergaris warna biru. Mereka juga memainkan lagu dangdut dengan tanjidornya.



Grup tanjidor tersebut menamakan dirinya “Tribun Timur”, dalam hati saya bertanya, kenapa grup ini menamakan tanjidornya “Tribun Timur”, apakah alat-alat difasilitasi oleh Koran Tribun Timur atau ada alasan lain. Teman-teman sayapun mengalami hal yang sama, mereka masing-masing bertanya pada dirinya karena tulisan namanya mirip sekali nama Perusahaan surat kabar “Tribun Timur”. Pertanyaan itu kami tunda dulu karena kami punya jadwal untuk itu yaitu mendatangi rumahnya. Pada saat kami datang, disana ada dua pemain tanjidor dengan grup yang berbeda. Pemain tanjidor yang menamakan dirinya “Irama Baru” menghibur di rumah pengantin perempuan sedangkan grup tanjidor “Tribun Timur” bermain di rumah mempelai laki-laki. Kami bisa menyaksikan kedua pemain tanjidor tersebut karena rumah mempelai laki-laki dan wanita sangat berdekatan. Sementara tanjidor dimainkan, kami berkumpul sebentar untuk membicarakan tentang tanjidor yang mana yang akan kami pilih untuk di teliti. Akhirnya, kami memilih tanjidor “Tribun Timur” sebagai objek penelitian. Ketua kelompok kami menghampiri pemimpin tenjidor tersebut dan hasilnya mereka menerima kami untuk dijadikannya sebagai objek penelitian. Kami mengadakan perjajian kepada pemimpinya untuk mendatanginya sebentar malam pada hari yang sama dan kelihatannya dia pun merasa mendapatkan tamu. Kamipun pulang dengan rasa bahagia dan mengucapkan terimah kasih kepada mereka.

Pada jam 15.32 kami pulang dari acara pernikahan tersebut, kami melewati jalanan yang berbeda. Kami melewati sebuah mesjid saat-saat menunaikan shalat ashar. Mesjid tersebut merindingkan bulu saya karena buru kali ini saya melihat mesjid yang banyak sekali jamaahnya pada saat shalat asar. Biasanya mesjid terkuras jamaahnya pada saat shalat duhur dan asar tapi berbeda dengan mesjid ini. Penduduk sekitar memperhatikan shalat jamaahnya.mesjid tersebut bernama mesjid Ar-Ridha. Sebelum melewati mesjid tersebut, kami melihat seorang anak yang sedang membalikkan sebuah ember kemudian memukul-mukulnya dengan du buah kayu yang berada di tangan kanan dan kirinya. Menurut saya, mungkin anak tersebut senang dengan permainan musik tanjidor. Kami melewati lapangan sepak bola dan penguburan kelurahan kodingareng.

Pada jam 16.03, saya langsung ke mesjid Al-Hidayah untuk menunaikan shlat asar. Sepulang dari mesjid, saya langsung duduk istirahat ditangga depan rumah Pak Haris tersebut sambil melihat penduduk pulau yang saling akrab. Ibu-ibu kelihatan kumpul bersama sambil bakar-bakar ikan di tepi jalanan. Anak-anak santri yang tak pernah hilang di mata lewat di depan rumah. Anak-anak perempuan lewat saling bergandenagan tangan. Anak-anak muda pun jua lewat sambil senyum membawa ikan besar di bahunya. Sungguh perkampunagan yang sangat indah.Tiap rumah diwakili oleh pohon jambu yang rindang. Semua rumah terpagar dengan rancangan pagar yang rapi. Kebanyakan pagar yang didapatkan disana adalah pagar yang terbuat dari anyaman bambu.Tak tersa waktu cepat berlalu sampai suara azan berkumandang menandakan shalat magrib telah tiba. Saya dan beberapa teman saya shalat jamah di mesjid Al-Hidayah. Pada jam 18.12, kami sudah selesai shalat berjamaah di mesjid. Kami pun langsung makan malam setelah beberapa menit setelah shalat magrib. Setelah makan, kami tidak langsung kerumah pak Muhajir, kami menunggu setelah shlat Isya karena kami takut pak Muhajir terganggu atas kedatangan kami karena dia baru saja menghadiri acara pesta pernikahan. Pada jam 19.37 saya melaksanakan shalat Isya dan setelah itu kami berangkat ke rumah pak Muhajir pada jam 19.45 dan ditemani oleh Haji Samar.

Foto diatas adalah pak Muhajir Akbar

Setiba di rumahnya pak Muhajir, kami sedikit tertekan karena pak Muhajir tidak ada di tempat, sehingga Haji Samar menyuruh anak pak Muhajir pergi mencari ayahnya. Sebelum dicari, pak Muhajir datang dengan celana pendek dengan menggunakan baju partai. Sesui dengan tujuan, kami mewawancarainya tepatnya di teras ruamah pak muhajir. Kamipun bertanya namun pak Muhajir menjawabnya dengan lantang dan semangat. Tapi saya merasa terlalu memberatkan pak Muhajir karena pertanyaan kami tidak tersusun, apalagi teman-teman saya mengajukan pertanyaan mereka masing-masing. Kami sedikit mengalami kesulitan karena pertanyaan kami banyak merujuk pada sejarah keseniannya. Sedangkan pak muhajir tidak tahu soal tahun-tahunan. Tahun lahirnya saja ia tidak tahu sehingga beberapa data tidak terisi. Setelah wawancara, kami bermain tanjidor bersama menggunakn tanjidor Tribun Timur.

Pada jam 21.45, kami pulang dari rumahnya pak Muhajir. Setelah sampai di ruamh saudara Hajji Samar, sebagian teman kami baru melaksanakan shalat Isyanya, setelah itu, saya menyusun kembali hasil wawancara pada jam22.02. saya tidur paling trakhir diantara teman saya. Saya tidur malaman m itu sekitar jam 00.00.

Pada jam 04.45 saya sudah bangun, dan shalat Subuh pada jam 05.00 dan selesai shalat jam 05.15. Setelah itu kami mempersiapkan barang-barang kami untuk pulang meninggalkan pulau kodinagreng. Biasanya kapal bertolak sekitar jam 06.00 jadi kami mempersiapkan diri sebelum jam tersebut dan memeriksa barang-barang supaya tidak ada yang tertinggal. Pada jam 06.11, kami meninggalkan rumah Pak Haris dan sampai di pelabuhan pada jam 06.17. Kami langsung naik ke kapal sesampai tiba di pelabuhan Kodinagreng dan sebelumnya kami bersalam-salaman sama Haji Samar dan berterimakasih atas pertolongannya. Pada jam 06.25. Pada jam 06.33 kapal pun bertolak dari pelabuhan.

Sementara dalam perjalanan dari pelabuhan Kodinagreng ke palabuhan Makassar terjadi sedikit ketegangan karena jumlah penumpang lebih banyak karena kapal yang satu tidak bias berangkat, mungkin terjadi keru jadi seluruh peakan pada kapal tersebut jadi numpangnya berpindah ke kapal yang kami tumpangi. Ombakpun lebih tinggi dari hari sebelumnya jadi ketegangan semakin bertambah. Kapal melewati beberapa pulau menuju Makassar dengan ombak laut melebihi 30 cm.

Pada jam 07.48 kami sudah sampai di pelabuhan Tombak Kayu bangkoang dan langsung kami mencari pete-pete. Kami naik pete-pete pada jam 07.52 dan sampai di kampus pada jam 08.48.

Setelah sampai di Kampus
kami langsung berpebencar dan mengambil alih diri masing- masing. Saya jalan kaki kerumah selama 13 menit karena jarak rumah saya dari kampus sepanjang 0.8 Km.



Catatan ini selesai pada tanggal 12 Juni jam 00.55.

Kunjungi saya di www.abrahkreatif.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Tambahkan Saya Sebagai Teman Anda!

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujuraat: 13)